Berapa harga sebuah kejujuran? Sepintas, pertanyaan tersebut terlihat aneh. Tapi coba renungi sejenak. Renungi dengan jernih dan tenang. Berapa harga sebuah kejujuran?
Saat ini, dalam era keterbukaan dan kecanggihan teknologi, kita bisa menemukan fakta-fakta dengan begitu mudahnya. Kita bisa menemukan ada orang yang dengan mudah mencampakkan kejujurannya, hanya demi untuk mendapatkan sanjungan. Ada juga orang yang mengubur kejujurannya, demi untuk mendapatkan jabatan dan harta kekayaan. Bahkan, kita hampir tidak percaya bahwa ada orang yang bisa dengan mudah membuang kejujurannya, hanya demi mendapatkan uang recehan dan sesuap nasi. Rela menjadi pengemis atau peminta-minta, agar dikasihani orang lain, dengan tujuan untuk mendapatkan uang dengan mudah karena malas bekerja.

Saya secara pribadi, hampir-hampir tidak percaya bahwa ada orang yang rela melakukan perbuatan tidak jujur, hanya demi untuk mendapatkan uang recehan. Bahkan lebih parah lagi, ada orang yang dengan mudahnya melakukan hal-hal tidak jujur, hanya demi mendapatkan sanjungan atau pujian dari orang lain. Menurut saya, ini adalah perbuatan yang hina. Perbuatan yang sama sekali tidak bermartabat. Sudah begitu parahnyakah, sehingga kejujuran dianggap seperti sampah? Apakah kejujuran sudah tidak punya harga? Atau orang-orang yang jujur sudah tidak dihargai lagi?
Jika kita cermati dengan baik, maka kita bisa melihat sangat jelas bahwa orang yang dengan mudahnya membuang kejujurannya demi untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, maka martabat dan harga dirinya juga semakin rendah. Artinya, jika ada orang yang rela mencampakkan kejujurannya hanya demi untuk mendapatkan uang 1 juta rupiah, maka bisa kita lihat bahwa harga dirinya hanyalah sebesar 1 juta rupiah tersebut. Jika ada orang yang rela membuang kejujurannya hanya demi uang 50 ribu rupiah, maka harga dirinya juga sebesar 50 ribu rupiah tersebut. Lebih rendah lagi, jika ada orang yang rela mengubur kejujurannya hanya demi untuk mendapatkan sanjungan atau pujian dari orang lain, maka sebenarnya orang tersebut tidak punya harga diri. Meskipun terlihat nampak luar penampilannya sangat mewah dan wah. Tapi sebenarnya dia tidak punya harga diri sama sekali.
Di televisi, kita bisa melihat dengan gamblang realitanya. Ada seorang kepala daerah yang berbicara perihal menjaga keharmonisan keluarga kemana-mana, tetapi kenyataannya dia sendiri selingkuh untuk mendapatkan istri muda yang lebih cantik dari istri pertamanya. Ada juga seorang yang digelari ustadz, yang berceramah kemana-mana soal menyayangi dan menyantuni anak yatim, ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, justru dia sendiri yang menelantarkan anak-anaknya sendiri.
Ada juga seorang artis yang terlihat hidupnya sangat religius, ternyata anak-anaknya terjerat ke dalam kubangan narkoba. Ada banyak juga pejabat negara yang sosoknya terlihat alim dan santun dalam berbicara, eh ternyata tertangkap tangan oleh KPK karena kasus suap tender proyek. Dan masih banyak sekali buah-buah ketidak-jujuran yang bisa kita ambil hikmahnya. Bahkan, ada juga seorang istri yang tertangkap basah oleh suami sedang selingkuh di kamar hotel bersama lelaki lain. Dan ketika ditanyakan, si istri tersebut mengakui bahwa dia berselingkuh karena suaminya tidak mampu mencukupinya secara finansial. Jika memang demikian, kenapa tidak bercerai saja? Kenapa harus melakukan hal-hal tidak jujur (selingkuh), hanya demi untuk mendapatkan kecukupan finansial (uang)? Padahal, ternyata si istri tersebut bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi ternama di Indonesia. Dan selingkuhannya yang tertangkap tersebut, punya gelar akademik yang berjejer. Bukankah mereka kaum terdidik? Kok bisa melakukan hal sehina itu?
Orang yang tidak mampu menjaga sikap jujurnya, cepat atau lambat, dia pasti berkubang dalam lumpur kehinaan. Hidupnya kropos dan membusuk dari dalam. Meskipun terlihat dari luar, hidupnya nampak mewah dan baik-baik saja. Orang yang dengan mudah menjual kejujurannya, cepat atau lambat, dia tidak akan lagi punya harga diri. Martabat dan kehormatannya, pada akhirnya akan tercampakkan dengan sangat mudahnya. Dan penyesalan pasti datang terlambat.
Lantas, berapa harga kejujuran diri anda saat ini? Apakah anda juga sedang memperjual-belikan kejujuran? Atau justru anda sedang membuang kejujuran yang anda miliki ke dalam tong sampah kehidupan?
Seperti petuah dari para bijak terdahulu, “orang bijak pasti merasa malu, jika kata-katanya lebih indah dari perbuatannya.”
Dan seperti pesan terakhir dari Ki Ageng Carubuk Blarak Sineret, “lebih baik aku mati dengan mendekap kejujuran, daripada aku harus mati terkubur dalam segala bentuk kemewahan duniawi.” Itu Beliau katakan sebelum menghembuskan nafas terakhir setelah kalah bertarung dengan Ki Ageng Sengkelat Nogorangsang.
Wahyu Eko Setiawan (Sam WES)
CEO Brawijaya Organizer
Photo by Luis Alberto Cardenas Otaya: https://www.pexels.com/photo/smiling-person-wearing-mask-10548237/




